Desain Sosial Media Untuk Meningkatkan Penjualan Online Shop Kamu

Era Baru Desain Grafis Pada Normal yang Baru


Masih terasa seperti kemarin sore, era 2010 adalah waktu pertama kita dapat meruang lintas spasial. Tahun-tahun awal kita diperlhatkan hadirnya teknologi cerdas yang diakses penuh oleh publik, meningkatnya pemahaman literasi visual digital, munculnya teknologi virtual, augmented reality hingga media sosial.

Desain grafis masuk ke dalam tatanan ini dengan mengonstruksi dan menavigasi visualnya, dan oleh karenanya timbul gejala pergeseran norma dan juga aktivitas keseharian manusia. Kita mulai bergeser dari tren yang sifatnya surface (produk) dan lebih melekat kepada aktivisme yang banyak kita temukan di visual platform bernama Instagram.

Instagram terus mengekspansi fitur-fiturnya sejak pemakaiannya yang kian marak. Desain grafis bergerak seiring dengan keunikan media sosial yang menguntungkan, tapi juga di satu sisi membabakbelurkan, ruang fisik industri ritel. Era ini juga menggenjotkan industri kreatif dan desainer grafis merupakan profesi yang bekerja dalam konstruksi ini. Saya pikir, sumbangan desain grafis di era ini bukan lagi produk, atau gerakan, atau sosok desainer tertentu, tapi lebih menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan esensial terhadap kehidupan seiring teknologi menggeser nilai-nilai norma masyarakat.

Sampailah di 2020. Kini, kita sedang berada di persimpangan peristiwa mengancam peradaban manusia. Pandemi Covid-19 ini membawa perubahan pada ragam tatanan kehidupan, beberapa diantaranya mungkin bersifat sementara, tetapi yang lain mungkin menjadi situasi yang baru. Sangat penting untuk dapat memahami situasi ini sebagai tantangan maupun peluang baru, dan bagaimana mereka dapat saling membantu, beradaptasi, memitigasi, dan menerima bahwa dunia, seperti yang kita tahu, sedang berubah. Dengan adanya peraturan social distancing dan karantina wilayah, orang-orang kian berpaling ke internet. Yang kemudian bisa dimanfaatkan dari perubahan ini adalah melihat segala kemungkinan dan kritis tentang mengedepankan aktivitas digital dan aktivitas luar ruangan sebagai bentuk penerapan setelahnya. Satu hal, sebagaimana peristiwa dunia sebelumnya, kini kita sedang melihat adanya perubahan baru dan dalam hal ini terhadap desain grafis.

Lalu, apa saja kemungkinan ‘desain grafis baru’ di ‘normal baru’? Tentu kita masih hanya bisa berspekulasi. Satu hal yang jelas adalah kita dapat membaca kembali kebutuhan sosial yang berdampak pada nilai sebuah produk, terutama karena kini muncul pengoperasian teknologi baru yang diupayakan lebih efisien dan efektif.

Di ranah praktik kerja sendiri akan ada lonjakan dalam pekerjaan jarak jauh (remote). Hal ini didasari oleh kegiatan Work from Home (WFH) yang sudah dijalani oleh warga Indonesia sejak pertengahan Maret lalu. Dampak dari kerja jarak jauh ini sendiri adalah adanya pelonggaran dalam kontrak kerja yang pastinya harus disepakati bersama.

Basis pekerjaan digital akan semakin praktis dengan sistem jarak jauh. Kita bisa menduga bahwa proyek desain tata letak, ilustrasi, desain antarmuka dan sebagainya akan semakin meningkat, tetapi quality control terhadap praktik maupun proyek desain yang implementasinya produk tidak akan berubah, seperti desain kemasan, branding ataupun cetak-mencetak. Hal ini dikarenakan masih banyaknya gairah orang untuk bergiat keluar rumahnya, atau membeli barang ke toko konvensional, atau keinginan pergi melihat pameran, seminar, dan acara lainnya yang pengalamannya tak sanggup disediakan oleh ruang virtual.

Momentum ini juga sepertinya akan meningkatkan produksi dan penilaian konten berbasis ‘pengalaman’ seperti daily vlogging, reaction, unboxing dan tasting; budaya yang sudah muncul di akhir 2010-an. Ke depannya, bentuk konten reaksi ini akan terus berkembang baik dari segi perpanjangan durasi dan peningkatan kualitas fisik. Tapi juga sebelum itu memang harus ada konvensi atau paling tidak musyawarah skala nasional terkait bagaimana desain grafis menghadapi disrupsi yang berbasis digital sebagai imbas dari revolusi industri 4.0, dan bahkan pandemi ini. Hal ini juga tidak melulu bertumpu dan menunggu para pemangku kepentingan di industri desain grafis karena penyelesaian atas gangguan ini hanya satu hal, hal lainya masih banyak seperti birokrasi, implementasi, sampai pengabdian masyarakat.

Akan tetapi perlu diingat perubahan sosiokultural yang mengutamakan digital pada masa ini dimungkinkan tidak akan mematikan industri maupun individu di ranah penerbitan maupun percetakan. Justru mungkin akan sebaliknya, orang akan jengah dengan kemajuan dan kenyamanan teknologi digital dan virtual dan akan kembali membutuhkan pengalaman fisik, atau lazim kita kenal dengan ‘hasrat kebendaan’ dan ‘kepemilikan’ yang tidak sepenuhnya bisa kita miliki pada produk berbasis digital.

Maka, di akhir paragraf ini, kita bisa berpikir sejenak bahwa momentum desain-itu-hadir juga diiringi dengan perubahan dan pergolakan zaman. Melalui peristiwa zaman yang selaras dengan perkembangan desain, saya ingin membingkai penguakan sejarah ini agar lagi-lagi kita bisa mengingat bahwa desain grafis dapat memecahkan masalah-masalah melalui pendekatan kemanusiaan. Dengan demikian, desain grafis tidak memproduksi objek semata, tapi juga dapat menyelesaikan pertanyaan maupun masalah yang lebih esensial. Salah satunya adalah dengan menerapkan nilai baru pada desain grafis yaitu dengan membangun praktik dan pemikiran desain yang cenderung mengutamakan empati sebelum kemudian menjadi sebuah gagasan.

Jika kita mendesain untuk memecahkan masalah sesama umat manusia, terlebih di pademi ini, kita juga harus merancang solusi yang melibatkan empati sebagai prinsip dasar. Hal ini akan menghadirkan solusi yang tidak saja termanufaktur dan terkesan dingin, tapi juga menciptakan keintiman kita sebagai makhluk sosial. Dengan demikian, nampaknya teknologi pun tidak akan pernah benar-benar menggantikan peran desainer grafis dari segi produksi maupun pemikiran yang berimplikasi pada kehidupan nyata. Selama kita masih menghargai interaksi sosial tersebut, sejarah desain grafis baru pun akan ada di setiap normal baru.


Tulisan keren ini disadur dari artikel Desain Grafis Indonesia


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Era Baru Desain Grafis Pada Normal yang Baru"

Post a Comment

Dilarang spam & tebar link aktif judi hingga p*rnografi

Random Posts

Sedang Memuat...

Hire Desainer