Belajar itu Menyenangkan! Multimedia Interaktif Pembelajaran Untuk Anak.

Festival Bebas Batas 2018. Karena Ekspresi Adalah Hak Semua Warga

Pekan lalu terdapat salah satu hal menarik di salah satu dinding Halte Bus Transjakarta, Harmoni. Terpajang lukisan pemandangan gunung dengan hamparan danau kebiruan dan deretan pohon berdaun merah kekuningan. Menghiasi pula gubuk kecil yang berdiri di pinggir danau yang nampak teduh. Jika hanya sepintas saja melihat, tentu sebagian banyak orang tidak akan mengira bahwa lukisan tersebut adalah karya dari seorang pasien Rumah Sakit Jiwa.

Seorang pelukis bernisial S mampu membuat gradasi warna untuk menciptakan sebuah visual awan, gunung, dan danau. Jika melihat dari goresannya, S tampak seperti menguasai komposisi warna dengan baik. Lukisannya nampak hidup sekaligus artistik.
Pada dinding sebelahnya, nampak terpajang sebuah lukisan wajah dari wanita berambut hitam, berkalung manik-manik hijau dengan lipstik warna merah muda di bibirnya. Lukisan tersebut merupakan karya E, pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang.

E adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang telah bertahun-tahun tinggal berpindah-pindah di RSJ Lawang, Dinas Sosial Pasuruan,dan Lingkungan Pondok Sosial Surabaya. Lukisan tersebut dibuatnya sekitar akhir Mei lalu dengan penuh ketekunan.
Ia sangat menikmati lokakarya menggambar melukis yang digelar Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Galeri Nasional Indonesia, dan Art Brut Indonesia.

Lukisan-lukisan diatas hanyalah sebagian kecil dari 146 karya ODGJ yang terkumpul dari lima RSJ, yaitu RSJ Dr. Arif Zainuddin, Solo; RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang; RSJ Bali; RSJ Lampung; RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta. Ratusan lukisan tersebut dipajang di Terminal 3 Ultimate Bandara SOekarno-Hatta dan Halte Harmoni pada 30 Agustus - 4 Oktober 2018 dalam pameran Aneka Rupa Lima RSJ yang merupakan pendamping Festival Bebas Batas 2018.

Aneka Rupa Lima RSJ bermula dari kegiatan melukis bersama yang dilaksanakan di lima RSJ sepanjang Mei -Juni 2018. Pameran ini menjadi arena ekspresi ODGJ yang selama ini terselubung oleh stigma dan prasangka. Terkadang kita kerap tak menganggap penting ekspresi ODGJ. Bahkan, kebanyakan orang lupa bahwa mereka adalah manusia Indonesia dijamin oleh negara untuk bebas mengungkapkan ekspresinya.
Karena itu, pameran Aneka Rupa Lima RSJ dapat dibaca sebagai ruang yang merekam bentuk ekspresi lugas, polos, dan spontan dari para ODGJ melalui goresan cat di atas kertas maupun kanvas. Selain sebagai arena ekspresi, pameran ini dapat juga dibaca sebagai medan semiotika yang menggoda.

Melihat dari seluruh karya ODGJ di lima RSJ tersebut, kurator melihat bahwa stigma dan prasangka terhadap ODGJ menjadi faktor yang mempengaruhi dalam penandaan dan pemaknaan karya-karya mereka. Ketika melukis, ekspresi-ekspresi yang muncul dari para ODGJ sangatlah luar biasa. Mereka bahkan menghasilkan kode-kode yang bersifat tidak umum.

Seperti yang diungkapkan oleh ko-kurator Festivasl Bebas Batas 2018, Hendromasto Prasetyo. Dalam fase tertentu, penikmat seni rupa tidak akan peduli apakah sebuah karya seni dihasilkan perupa profesional atau ODGJ. Batasan-batasan tersebut akhirnya runtuh dalam kacamata seni rupa karena yang dilihat pada akhirnya adalah karya.

Dengan berlatih menggambar, ODGJ mendapatkan medium untuk bebas berekspresi sepuasnya. Karena seni sangat penting untuk mengolah pikiran, mengolah hati dan rasa. Hal semacam ini adalah kegiatan bentk terapi yang baik bagi ODGJ.
Sejak puluhan tahun lalu, melukis telah menjadi salah satu bagian dari proses rehabilitasi ODGJ di RSJ. Kendala yang dihadapi sekarang adalah sebagian besar RSJ di Indonesia tak memiliki ahli terapi seni.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Festival Bebas Batas 2018. Karena Ekspresi Adalah Hak Semua Warga"

Post a Comment

Hindari kalimat negatif, p*rngrafi, serta perjudian

Random Posts

Sedang Memuat...