Belajar itu Menyenangkan! Multimedia Interaktif Pembelajaran Untuk Anak.

Branding untuk Desainer.


Seperti yang tertulis dalam kitab Bisnis Desain, karya Surianto Rustan, disebutkan bahwa branding adalah kegiatan menggali segi fisik dan nonfisik produk dan mengelolanya sedemikian rupa agar terjalin hubungan emosional dengan konsumennya.

Branding menunjukkan kata kerja atau aktivitas untuk membangun sebuah brand. Sementara brand menunjukkan bendanya, bisa berupa sebuah benda nyata yang nampak oleh mata, ataupun berbentuk abstrak seperti persepsi yang terbentuk sebagai hasil dari aktivitas branding. Kamu juga bisa sedikit mengulas kembali bacaan mengenai brand pada posting berikut ini. 

Pada dasarnya branding tidak hanya dapat diterapkan pada produk, akan tetapi juga bisa diterapkan pada diri manusia baik secara individu maupun kelompok, dalam hal ini adalah desainer atau sekelompok desainer. Hal-hal yang diperhatikan dalam branding, diantaranya adalah nama atau merek, logo, identitas, warna, marketing, dan strategi.

Suksesnya branding suatu produk ataupun figur tergantung dari kesan dan persepsi di benak masyarakat tentang produk atau orang tersebut. Branding sangat dekat hubungannya dengan identitas suatu produk maupun figur. Jadi branding adalah persepsi dan kesan yang tertanam dalam masyarakat, dan persepsi tersebut tidak harus sesuai dengan kenyataan yang ada.

Kita bisa mengambil perumpamaan atau contoh seperti “Imam-Studio”. Di masyarakat beredar kesan dan persepsi yang timbul bahwa Imam adalah desainer yang gigih dan suka bekerja keras, akan tetapi pada kenyataannya Imam adalah seorang yang pemalas dan tidak mau belajar hal yang baru. Karena ‘kenyataan’ dalam branding hanyalah permasalahan persepsi bukan yang sesungguhnya. Akan tetapi branding juga tidak selalu identik dengan kebohongan. Penekanannya adalah pada ‘membangun persepsi masyarakat’. Branding yang melekat pada diri seseorang disebut personal branding.

Untuk membangun persepsi tersebut maka dibutuhkan sebuah brand identity, yaitu lambang, tanda, suara, maupun simbol yang ada pada level permukaan. Brand identity tersebut digunakan agar masyarakat mudah mengenali suatu identitas merek maupun seorang figur. Misalnya jingle iklan “susu saya susu bendera”, nada dering nokia, gaya menunjuk Mario Teguh sambil mengatakan “salam super”, aksi panggung Michael Jackson, dan lain sebagainya. Semua lambang tersebut berada pada level permukaan yang dibuat untuk menunjukkan identitas, bukan melalui perkenalan secara mendalam masyarakat dengan merek ataupun figur tersebut.

Seorang desainer dapat membangun brand identity untuk membangun dirinya sendiri secara individu maupun kelompok. Yang dibutuhkan adalah sebuah lambang, tanda, suara yang terus ditanamkan dalam benak masyarakat untuk mengenali identitas seorang ataupun sekelompok desainer. Dan dengan branding juga seorang desainer secara tidak disadari menjadi semacam visualisasi diri yang tentu saja bersifat positif. Misalnya seorang desainer yang membangun branding bahwa dirinya dapat mengerjakan desain dalam waktu tiga jam, maka ia akan berusaha keras untuk memenuhi brand yang ia ciptakan sendiri. Tujuannya untuk menjaga persepsi yang telah terbentuk dalam masyarakat dan tentunya untuk menjaring klien yang lebih besar.

Semoga Bermanfaat.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Branding untuk Desainer."

Post a Comment

Hindari kalimat negatif, p*rngrafi, serta perjudian

Random Posts

Sedang Memuat...