Belajar itu Menyenangkan! Multimedia Interaktif Pembelajaran Untuk Anak.

Designer, Jangan Gampang Baper Ya!



Baper yakni singkatan umum untuk generasi milenial dari “Bawa Perasaan”. Istilah milenial ini dikaitkan dengan kondisi dimana seseorang mudah sensitif ataupun gampang mengikutsertakan peraasaan saat berhadapan dengan seseorang ataupun sesuatu hal lainnya yang tidak pada semestinya.


Mengacu pada salah satu komunitas media sosial yang saya ikuti, akhir-akhir ini hampir selalu ada teman yang mungkin bisa dikategorikan baperan.

“Duhh..Si Boss minta revisi mulu nih. Kapan kelarnya desain gue kalo kayak gini terus!
(Kesel, Baper Mode On)” 

Salah satu cuitan bentuk baper teman saya sebagai seorang desainer yang menjadikan saya tertarik untuk sedikit mengulas topik ringan ini.

Jangan Baper Saat Dosen Ataupun Klien Tidak Setuju Dengan Desain Kita.

Hal seperti ini sering terjadi sejak saat saya menempuh bangku kuliah DKV. Seringkali suasana asistensi tugas bersama dosen menjadi horror seketika itu juga. Memang kondisi saat itu, adalah kondisi yang paling bisa membuat labil seseorang ketika menjalani proses awal di dunia desain. Seringkali hasil pertama asistensi tidak sesuai dengan seperti yang kita harapkan.

Dosen : “ Saya tidak suka dengan font ini. Jenis font ini kurang ndangdut! Kamu bisa gunakan font yang keren lainnya, semacam jokerman, misalnya.”
Saya : “Tapi menurut saya, pilihan font ini kan sesuai dengan tema poster yang saya angkat, Pak.”
Dosen : “ Iyaa, tapi font ini ini terlalu kaku, dan terlalu formal. Kamu revisi dulu ya! ”
Saya : “ Yahh tapii pak, taapii…” *nangis dalam hati, baper mode on. 

Percakapan seperti diatas, bisa berulang kali ditemui setiap kali saya asistensi tugas dengan dosen. Selain itu juga, bisa saja muncul bermacam-macam tipe dan jenis penolakannya. Dosen ataupun klien nantinya, yang pada awalnya memberi brief terlihat mudah dan gampang, bisa saja berakhir dengan keadaan dimana pada akhirnya kita dibuat baper.

Tapi dengan sering mendapati kejadian seperti percakapan diatas, saya menjadi semakin sadar, jika ternyata terkadang ada satu waktu, dimana klien atau dosen pun bisa saja menjadi bingung dengan brief yang pada awalnya diberikan. Solusi dari semuanya adalah dengan kita memberikan argument yang menguatkan, kenapa kita mengekseskusi sebuah brief dengan hasil yang sedemikian, hingga alasan kuat kenapa kita memilih font yang diterapkan. Semua harus beralasan dan jelas.

Karena bagi saya juga, esensinya terdapat di proses. Bagaimana kita menyikapi dan merespon melalui hubungan dan komunikasi yang tercipta antara kita dengan dosen ataupun klien. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara bertanya lebih untuk dapat mengetahui alasan kenapa dosen atau klien tidak setuju. Jika memang kita tidak sependapat dengan permintaan dari dosen ataupun klien, alangkah baiknya kemukakakan pendapat kamu terlebih dahulu. Jadi tidak harus selalu langsung dicerna secara mentah apa yang diinginkan oleh klien. Kemukakan terlebih dahulu pendapat dan argument kita, walaupun pada akhirnya dosen ataupun klien tetap tidak setuju. 

Bukanlah hal yang sia-sia menurut saya, jika akhirnya didapati klien yang tidak sependapat dengan artwork kita. Karena kita bisa tetap berdiri secara objektif dengan memberikan solusi yang menguatkan argument kita, ataupun dengan memberikan alternatif desain yang menurut kita bagus, dengan yang menurut dosen atau klien bagus. Biasanya dengan menunjukkan alternatif desain seperti ini, dosen ataupun klien bisa puas dengan hasil kerja kita. Walaupun tentu akan menguras tenaga lebih banyak, namun hal ini akan berimbas postif pada esensi proses yang kita lakukan.

Tahap akhir adalah tetap serahkan dosen ataupun klien untuk memilih. Sekali lagi, apapun keputusan yang ditentukan mereka, kamu tidak boleh mudah baper.

Jangan Gampang Baper, Jika Dikritik.

Sepertinya memang menjadi hal yang alami, ketika kita menerima sebuah kritik, maka akan gampang timbul perasaan tidak nyaman. Bahkan tak jarang kita dibuat baper oleh kritikan seseorang. Tak terlepas juga dari sebuah kritik yang datang dari orang awam hingga kritik yang sifatnya membangun sekalipun, hal itu bisa saja membuat seorang desainer menjadi baper.

"Belajar bagaimana untuk mengambil kritik adalah bagian paling sulit dari pekerjaan" 


- Ed Boltin, Design Direcor di Fitch -

Pada kenyataannya memang sangat lebih mudah buat kita menerima sebuah pujian dari pada sebuah kritik. Mendengar kata kritik saja, sangat memungkinkan membuat kita menjadi baper, kesal, hingga merasa terintimidasi dan menganggap diri kita gagal. Ehh Nahhloh…!
Dalam beberapa artikel daring lainnya, sebuah kritik dapat dikatakan sebagai syarat utama ataupun hal-hal yang diwajibkan sebagai jiwa seorang desainer.

Nah, bagi teman-teman yang masih belum bisa menerima kritik pedas dari orang lain, mulai sekarang mulailah untuk belajar mengubah arah kritik tersebut sebagai sesuatu yang bersifat membangun. Buatlah sebuah kritik tersebut menjadi sebuah arah diskusi yang sekiranya dapat membangun hingga memperbaiki sebuah desain yang dikritiknya. Jadi kritik itu gak bakalan berakhir di dalam hati, dan menjadi baper.

Jika saya sendiri menganggap kritik adalah sebuah bentuk perhatian ekstra dari orang lain terhadap karya saya, mungkin hal tersebut bisa dicontoh untuk teman-teman sekalian. Sebagai seorang designer, belajar untuk bersikap open-minded dengan bagaimanapun bentuk kritik, komentar, penilaian orang lain walaupun seringnya hal tersebut bukanlah hal yang enak didengar. Alangkah baiknya memang jika kita dengar dulu apa kritik orang lain tersebut, dan jika memang kritik tersebut dirasa benar, apa salahnya melakukan perubahan? Justru jangan sampai malah kita menolak kebenaran dari orang lain untuk karya kita.

Kritik memang bisa sangat tajam hingga menyanyat hati, namun akan lebih terasa sakit lagi jika dibandingkan dengan orang lain yang tidak memberikan perhatiannya sama sekali dengan karya desain kita. Dengan komentar atau kritik pedas yang diberikannya, paling tidak kita bisa menangkap sesuatu pandangan baru dari orang lain terhadap karya kita. Sehingga kita bisa tahu secara pasti kekurangan atau kelemahan karya desain kita di mata orang lain. Tentu saja menjadi idealis adalah sebuah tindakan yang tidak salah juga, namun alangkah lebih baiknya, jika kita tetap menempatkan klien atau dosen ataupun user diatas ego kita.

Semoga Bermanfaat.


“ Sekolah membuat desainer menjadi pintar, Bekerja membuat desainer menjadi paham, pengalaman Panjang membuat desainer menjadi arif ” 

Danton Sihombing


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Designer, Jangan Gampang Baper Ya!"

Post a Comment

Hindari kalimat negatif, p*rngrafi, serta perjudian

Random Posts

Sedang Memuat...