Belajar itu Menyenangkan! Multimedia Interaktif Pembelajaran Untuk Anak.

Mengapresiasi Sebuah Karya Desain



Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali…

Eits...! Sepertinya memang tidak usah saya teruskan saja ya liriknya, takut burung tetangga jadi pingsan sob. Saya sengaja menyebutkan sepenggal lirik tersebut yang menurut saya sedang mewakili keresahan dari peristiwa belakangan ini. Berkaitan dengan salah satu kompetisi desain yang diadain sama salah satu perusahaan jasa pengiriman barang yang biasanya nampilin “Si Om Pesulap” di desain bannernya. Sebagai salah seorang desainer yang pasif dan tidak keren, saya berbangga diri, hati saya sangat tergugah begitu mendengar pengumuman yang disampaikan oleh pihak panitia penyelenggara kompetisi. Yang saya rasa ketika membacanya saat itu hanya kecewa, tapi memang saya tidak bisa melakukan apapun, karena keputusan panitia adalah mutlak. Lagipula karena saya belum memenangkan kompetisinya. Hehehe.

Banyak desainer yang awalnya semangat, antusias ikutan berpartisipasi hingga sabar menunggu pengumuman final juara kompetisi ini. Tiba-tiba jadi berbalik kecewa begitu mendengar pengumuman dari pihak panitia. Yaah, bagaimana tidak bisa kecewa dan memaksa saya senyum kecut, pengumuman yang dijanjikan sempat meleset dari tanggal yang ditentukan sebelumnya, dan yang paling bikin saya tercengang, hadiah winning design yang awalnya membuat designer seperti saya mati-matian nglembur dan ngutang kopi di warung Mas No, berubah tidak sesuai seperti yang disebutkan diawal pengumuman kompetisi ini. Nilai winning design sebesar Rp.20.000.000,- tidak dikeluarkan dan pemenang final kompetisi merupakan pemenang favorit dari desain yang hampir mendekati kriteria juri. Pihak panitia berdalih karena belum adanya desain yang sesuai seperti brief yang mewakili perusahaan, akhirnya hanya diberikan pemenang favorit saja.

Bagi saya pribadi, bentuk-bentuk kompetisi yang ujungnya seperti ini, semoga tidak sampai terjadi lagi di lain waktu. Dalih panitia penyelenggara membuat saya tidak habis pikir, dari sekian banyak peserta yang mengikutsertakan diri di kompetisi ini, dirasa belum ada yang sesuai mencerminkan visi maupun misi perusahaan. Yaa dari sekian banyak peserta loh ya.

Tapi yasudahlah. Mungkin banyak pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa seperti ini. Inilah inti yang menurut saya perlu digaris bawahi. Mungkin Ada sebagian teman-teman designer yang memang mengikhlaskan dan memang sebelumnya memegang prinsipnya untuk membangun reputasi dahulu ataupun baru saja memulai pengalaman mengikuti kompetisi semacam ini. Namun, penyelenggaraan kompetisi yang berujung seperti ini, menurut saya bukanlah sebuah bentuk apresiasi yang baik terhadap desain. 

Bukan karena semata nilai materi yang berubah menjadi turun, tetapi bentuk apresiasi bagi designer yang sangat saya sayangkan. Seorang seperti saya, susah payah dengan sepenuh hati membaca brief dan mencoba menerapkan brief ke dalam grafis visual. Mencoba berpikir kreatif itu tidak mudah menurut saya. Mengubah beberapa paragraph yang mencirikan khusus menjadi bentuk visual baru yang mewakiliki beberapa paragraph tersebut, yang gampang dicerna, dan dipahami oleh orang lain, hanya bisa dilakukan oleh seorang designer.

Begitu beratnya menjadi seorang designer. Bukan hanya menghadap khusuk pada computer, dan mengolahnya menggunakan program Photoshop, Ai, Corel Draw ataupun yang lainnya, proses berpikirlah yang menjadikan penting untuk di apresiasi menurut saya. Membentuk pemikiran dengan mengubah brief yang diutarakan dari klien menjadi bentuk visual itu tidak semata-mata saya memejamkan mata, sembari tiduran dan besok harinya menemukan ide sebagai solusinya. Ide atau gagasan yang diperjuangkan dari setiap kita berkarya itu sangat penting. 

Mungkin ada yang masih terngiang dengan istilah desain gratis yang sempat membuat resah juga? Atau ingat istilah harga teman?

“Eh Mas, kamu kan jago edit gambar, bantuin saya bikin poster buat event saya yang ini dong! Bolehlah harga temen, cincaay lah yaa? 
(Nada suara biasanya disetel memelas, ngerayu maksa)

Kurang lebih semacam itulah percakapan basa-basinya, sampe akhirnya disuruh bolak balik revisi dan akhirnya cuma dibayar 2M. Makasih Mas!. 

Hal semacam itulah yang sering membuat designer patah semangat. Bukan tanpa alasan orang seperti saya menjadi patah semangat ya. Kamu sebagai temen saya, tidak seharusnya meminta sebuah desain harga teman ataupun desain gratis. Temen yang baik tidak akan sampai tega mengumandangkan kalimat seperti demikian ke telinga temannya, yang merupakan seorang designer. 
Bukan karena materialistis, hanya saja terkadang rasanya sakit, tapi saya tidak bisa membalas hanya dengan mengucap saja, saya tidak tega. Dalem hati cuman istighfar, dan doa semoga temen saya cepet dapet hidayah. 

Poses berpikir, Proses belajar, serta Passion memang tidak bisa dianggap sebelah mata. Seperti misalnya kamu bisa copy-paste tulisan ini untuk diduplikasi sendiri. Taste design, kepekaan rasa, semua itu didapat dengan membutuhkan proses, kesabaran dan kerja keras. Bukan hanya sekedar bakat.

Karena saya juga mengamini dengan pemikiran yang semacam ini; “Makin banyak yang ngasih jasa layanan desain gratis, maka bakalan makin banyak orang berpikir kalo desain itu pekerjaan iseng dan cuman hobi semata”. Saya juga sering berpapasan dengan peristiwa picisan dimana saya hanya dibalas dengan ucapan terimakasih. Yaa, kalau saja yang berucap Pak Jokowi sih mungkin saya juga masih bisa terima. Hehehe

Pandangan semacam ini jika dibiarkan terus mengalir, mungkin bisa membuat tumpul semangat dalam berkreasi, juga akan mengakibatkan besar kemungkinan sebuah brief dikerjakan secara asal-asalan. Dalam berkarya semau saja, ataupun se-acc dari klien atau pemberi jasa. Padahal sebagai designer, kita sudah berusaha menerapkan ilmu dan wawasan yang coba diterapkan dengan artwork kita. 

Jadi kamu serta saya juga, tidak akan heran kalau saat musimnya duren kampanye tiba, banyak desain banner, baliho, poster yang dipasang terkesan gitu-gitu aja. Monoton dan tidak berkembang. Tapi anehnya, (aneh banget menurut saya) yang semacam itu justru yang banyak dan terus-menerus diulang dan di amini oleh pemberi jasa atau klien sekalipun.

Yang aneh dieksplotasi yang membodohi dirutinkan, yang engtidak jelas dibuat terkenal. Yang idenya bagus tidak dikasih modal, yang karyanya keren tidak dimudahkan, yang berani mengambil resiko ngtidak dikasih kesempatan, yang mencoba berlomba dengan standar global dibilang melupakan akar, yang fresh disuruh mengikuti standar, yang kontribusinya besar creditnya ditumpangi; sekalinya pindah ke lain negara untuk lebih dianggap. Dibilang tidak mendukung bangsa sendiri.

Hal-hal semacam kompetisi yang ujung-ujungnya jadi buntung, fenomena menyakitkan arti kata harga temen, hingga istilah desain gratis muncul dan terus terjadi karena apresiasi yang sangat kurang. Saya hanya bermaksud memngingatkan saja, kalau teman kamu yang disuruh mengerjakan poster dan kamu minta revisi berkali-kali buat event kamu itu lhoh, dia rela mengahabiskan waktu lebih demi menyelesaikan yang menjadi tanggung jawabnya. Sekali lagi, saya hanya mengajak sedikit sadar jika sedikit peran positif dari seorang desainer mungkin harus diapresiasi. Fungsi sebagai seorang desainer bukan hanya menyelesaikan satu kepentingan saja melalui karya yang dihasilkannya. Jauh lebih luas dari kepuasan klien semata, Designer akan sangat bangga kalau saja karyanya punya andil untuk kepentingan semua orang yang masih bisa membaca dan mengerti pesan yang disampaikan dari seorang desainer lewat karyanya yang bisa bermanfaat. Tentunya kualitas yang coba dibangun oleh seorang designer juga karena support serta dorongan yang salah satu wujudnya yakni melalui sebuah apresiasi yang nyata. 

Semoga bermanfaat


“ Mereka menolong orang lain dalam hal desain, tolong balik menghargainya”



Postingan terkait:

4 Tanggapan untuk "Mengapresiasi Sebuah Karya Desain"

  1. Harusnya semua pemenang memboikotnya, demi kelangsungan 'marwah' para desainer.
    Logikanya kalo pengen sama dengan hasil rapat perusahaan, ya mending nyuruh desainer aja, suruh-suruh deh sesuka hati.
    Btw, saya ngga ikut lombanya, tapi saya lihat curhatan temen2 desainer di forum yang kayaknya disepelekan sama perusahaan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mungkin bener juga Bang Doel. Tapi mungkin juga gak semua designer se idealis itu.

      Yang jelas saya juga kurang setuju sama prshaan itu

      Makasih udah mampir Bang :D

      Delete
  2. Ngenes banget ya jadi desainer...

    Saya punya kawan desainer juga... tapi lancar-lancar aja keLIHATannya....

    Salam blogger mas.... 2M buat ilmunya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga emang yang tidak terlihat juga lancar mas..

      Salam 2M :D

      Delete

Hindari kalimat negatif, p*rngrafi, serta perjudian

Random Posts

Sedang Memuat...