Belajar itu Menyenangkan! Multimedia Interaktif Pembelajaran Untuk Anak.

Lika-Liku Desain Komunikasi Visual

Masa-masa setelah lulus SMA itulah masa penentuan dimana kita dihadapkan dengan lika-liku pilihan hidup yang atidak sulit menurut saya. Nikah atau Kerja?? Yakni suatu pilihan untuk melanjutkan proses belsajar ke tingkat universitas. Ehh bukan yaa, saya kira mah setelah lulus SMA mau langsung nikah saja. Memang untuk sebagian dari kita, mungkin melanjutkan proses pendidikan di bangku universitas terasa berat. Karena pada kenyataannya memang biaya pendidikan di tingkat tersebut sangat mencekik urat nadi. Tapi kalo kamu semua mengerti, sebenarnya cukup banyak program dari pemerintah yang bisa dimanfaatin masyarakat kalangan kebawah seperti saya ini buat melanjutkan bangku pendidikan.

Ya, gini-gini saya juga pernah merasakan program bantuan pendidikan dari pemerintah lhoh! Alhamdulillah yahh, rejeki anak sholeh mah kata Mang Ujang. Lika-liku awal dalam tulisan saya kali ini yakni tentang salah satu program studi atau biasa dibilang prodi, di tingkat universitas yang sangat keren, dan menjadi perbincangan setelah lulus dalam waktu ini, serta dapat dibangtidakan menurut saya pribadi. Ya banggalah, kan saya juga alumni prodi ini juga.

Adalah Prodi DKV. Bagi teman-teman sekalian, mungkin nama prodi ini sudah tidak asing lagi yaa. Prodi yang memang saat ini sedang banyak diminati dan menjadi keresahan di kalangan pelsajar muda sekarang. Atau mungkin juga masih belum tahu dan belum seterkenal pas seperti dulu pertama kali saya mengambil pilhan prodi ini dengan sangat percaya diri? Pe-De karena bingung mau milih apaan lagi sih. Memang pas pertama kali saya mendengar prodi ini juga sangat asing di telinga, dengan rataan passing grade yang masih belum tinggi. Bahkan sampai teman, hingga guru-guru saya juga semuanya bingung program studi apa sih itu?

Jadi sekalian saja disini, saya jelaskan secara jelas. DKV sebenarnya adalah singkatan beken dari Desain Komunikasi Visual. Terkadang ada juga yang menyingkat dengan Deskomvis. Prodi yang saat pertama kali saya dengar namanya, yang ada difikiran saya yakni prodi semacam teknologi informatika. Maklum saja saat tahun-tahunnya saya mendaftar perguruan tinggi kesana kemari, prodi tersebut adalah yang paling diminati di kalangan sebagian anak cowok zaman saya. Terdengar keren semacam prodi teknologi informatika, membuat saya semakin yakin dengan pilihan prodi yang akan saya ambil. Ibarat kata, sudah ketutup pintu hati saya ini buat prodi-prodi yang lain. 

Saya terus-menerus mencari informasi mengenai Prodi DKV, namun saat itu memang belum banyak informasi yang menyangkut mengenai prodi DKV. Alhasil, saya mendapati dengan minim informasi mengenai prodi DKV. Sedapat saya, infomasi yang ada yakni kurikulum program studi yang sampai saat ini belum update di website resmi universitasnya. Jadi setahu saya, saat itu DKV yaa desain grafis. Apa itu desain grafis? Desain grafis ya DKV. Berarti saya bakalan jago edit gambar dong, termasuk bikin foto-foto syurrr juga. Hehehe. Saya akan bisa membuat website keren, saya akan menjadi tukang foto, tukang membuat film, dan yang pasti saya tidak akan bertemu pelsajaran matematika, dengan sekelompok pelsajaran sains yang beraninya keroyokan. 

Maklum saja saat SMA, saya masuk dalam prodi IPA, hebat juga kan saya ini... Jadi, saat ada salah seorang teman saya yang menanyakan saya memilih prodi apa? Saya dengan lantang menjawab, “DKV”! Dengan nada atidak songong, pasang muka sombong walaupun muka emang jelek,pas-passan. Jadilah saya semakin Pe-De, padahal sih karena daftar passing grade yang jauh beda juga dengan prodi sebelah tadi, saya mantapkan hati untuk memilih di prodi ini.

Singkat cerita saya diterima di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah, di program studi DKV, Desain Komunikasi Visual. Namun, ternyata hal ini adalah awal dari sakit segala sakit jiwa yang akan saya alami nantinya. Idihhh seremm banget sob! Semua pikiran indah saya akan program studi ini sempat terbantahkan sesaat, begitu tahu ternyata prodi ini ada satu atap di Jurusan Seni Rupa!

Masa Ospek saya jalani dengan penuh tekanan, batin saya serasa sudah ingin cabut saja dari raga saya. Gimana tidak tekanan batin, saya yang pendiam, polos, rajin dan sedikit ganteng, kata emak saya, ketemu dengan para kakak senior Jurusan Seni Rupa yang berpenampilan..errghht banget deh! Kamu semua udah pada bisa bayangin mereka kayak gimana. Namun ternyata bukan hanya saya saja yang merasa seperti ini. Pengalaman ini juga diterima teman-teman seangkatan saya. Walaupun saat itu mereka terlihat sok kuat dan tegar plus baru cerita begitu mereka sudah lama menempuh pendidikan di Jurusan Seni Rupa Program Studi DKV ini. 

Yess! DKV yang saya bayangin ternyata tergabung dalam prodi senirupa. Alamakkkk!! Kan saya tidak jago gambar! Saya beri gambaran, pilihan saat itu hanya ada maju berdarah, atau mundur masuk ke dalam jurang! Lambat laun dengan penuh perjuangan saya jalani satu semester di prodi ini. Kuliah yang dulu saya bayangkan akan langsung menggunakan komputer digital, dan jago edit ini-itu, musnah di semester-semester awal. Bahkan tak sedikit teman-teman seangkatan saya, yang memilih mundur dari prodi ini. Saya sendiri sangat mengerti bagaimana rasanya mereka yang memilih mundur dari prodi ini. 

Jadi jangan kaget bagi kamu yang memilih prodi DKV ini, dan bertemu dengan hal-hal asing yang seperti saya rasain tempo dulu. Karena pada umumnya, DKV dalam Universitas Negeri tergabung dalam prodi Seni. Namun hal ini biasanya tidak berlaku untuk universitas swasta. Karena pada dasarnya, DKV merupakan cabang dari ilmu seni. 

Nah setelah pengalaman pahit saya rasakan di semester-semester awal, saya memiliki sedikit wacana untuk sobat-sobat saya semua, yang mungkin berkeinginan masuk kedalam Prodi DKV. Berikut merupakan hal-hal yang menurut saya hanya ada di dunia DKV. Hal-hal baru yang kamu alami saat masuk di prodi DKV:

Biaya Yang Harus Kamu Keluarkan Tidak Sedikit.
Karena seorang mahasiswa prodi DKV perlu banyak sekali perlengkapan untuk menunjang segala tugas yang akan dikerjakan selama perkuliahan. Seperti misalnya, kamu bakal mengeluarkan tabungan kamu untuk membeli lima buah cat poster merek sak*ra yang bisa habis dalam sekali pertemuan karena dipakai,dan diminta bareng-bareng oleh teman kamu.

Tugas Yang Datang Keroyokan.
Tugas yang datang keroyokan, akan membuat kamu sering begadang, membuat kamu tahu dan akhirnya menjadi ketagihan sama secangkir kafein. Membuat kamu menjadi akrab sama satpam komplek kosa-kosan, sob! Dari banyaknya tugas ini, kamu akan mengerti caranya bekerja sama, berorganisasi bersama teman-teman kamu, terutama disaat-saat ujian berlangsung. Tahu kan maskud saya...

Hanya Anak DKV Yang Tahu Mata Kuliah Ini.
Yess! Seperti Nirmana Dwimatra, Nirmana Trimatra, Patung, Ukir, Batik...percaya deh, itu hanya kamu saja sebagai anak DKV yang tahu dan merasakan untuk di ceritakan ke anak cucu kamu nantinya. Jurusan lain??mana punya!

Punya Teman-Teman Yang Kompak.
Sudah tidak lagi namanya saling jaim alias jaga imej (image). Pokoknya asyik, dan pastinya akan bisa membuat suasana kelas menjadi seru deh!

Tampilan Cuek Ciri Khas Mahasiswa Prodi DKV.
Nahh..sekarang kamu bakalan tahu, kenapa dulu saat kamu ospek bertemu dengan kakak-kelas yang tampilannya ternyata hampir sama seperti diri kamu yang sekarang ini kan? Pelajaran berikutnya yang diambil, adalah jangan menilai seseorang dari rambut bahkan tattonya saja.

Itu adalah sedikit cerita awal yang saya pernah rasakan ketika masuk ke Prodi DKV. Pengalaman saya ini akan menjadi bermanfaat bagi sobat semua yang berkeinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan di Prodi Desain Komunikasi Visual. Tulisan saya ini bisa dijadikan pedoman buat kamu, sebelum menentukan masa depan kamu. Karena bagaimanapun pilihan tersebut dapat menentukan keberhasilanmu di masa mendatang.

Semoga bermanfaat. 


“Setahu saya, DKV yaa Desain Grafis. Desain Grafis yaa, DKV!”

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Lika-Liku Desain Komunikasi Visual"

Hindari kalimat negatif, p*rngrafi, serta perjudian

Random Posts

Sedang Memuat...